(... Sambungan) Bila dirujuk lebih dalam, pertentangan antara kapitalisme dan demokrasi muncul akibat adanya dua kepribadian berbeda dalam individu manusia. Di satu sisi, manusia berperilaku sebagai makhluk ekonomi (sebagai konsumen atau investor) yang ingin memaksimasi keuntungannya, sementara di sisi lain, manusia bertindak sebagai makhluk sosial, bertindak sebagai seorang warga negara yang menginginkan terciptanya keadilan dalam masyarakat. Untuk sisi kedua dari manusia tersebut, konsep citizenship sangat berperan penting. |
Kamis, 10 April 2008
Democracy: Killing Me Softly (With Capitalism) ??? Part IV -- The Ethics of Citizenship
Democracy: Killing Me Softly (With Capitalism) ??? Part III -- Kapitalisme vs Demokrasi Di Indonesia
(... Sambungan) Setali tiga uang, hubungan yang sama antara kapitalisme dan demokrasi terjadi di Indonesia. Selepas Orde Baru, demokrasi di Indonesia tumbuh dengan begitu pesat. Pelaksanaan Pemilu pada tahun 2004 merupakan bukti nyata di mata internasional kesuksesan demokrasi di Indonesia. Di mata internasional, Indonesia adalah negara paling demokrasi di Asia Tenggara. (Bersambung ...) |
Democracy: Killing Me Softly (With Capitalism) ??? Part II -- Kapitalisme vs Demokrasi
(... Sambungan) Dalam menjelaskan hubungan antara kapitalisme dan demokrasi banyak pendapat yang menganggap bahwa antara kapitalisme dan demokrasi tidaklah compatible. Salah satunya yang sungguh menarik adalah bila kita menyimak analogi yang digunakan Robert Dahl mengenai keduanya. Robert Dahl menganalogikan kapitalisme dan demokrasi dengan dua orang yang diikat oleh sebuah pernikahan yang dipenuhi oleh konflik dan bisa bertahan hanya karena masing-masing pihak tidak ada yang ingin melepaskan diri satu sama lain. Lebih jauh, Robert Dahl menganggap kapitalisme memberikan efek yang buruk pada demokrasi. (Bersambung ...) |
Democracy: Killing Me Softly (With Capitalism) ??? Part I -- Pendahuluan
Fenomena Barack Obama dalam Pemilu AS menarik banyak perhatian bukan hanya di AS, tetapi juga di seluruh dunia. Tren kemenangan yang mengejutkan dan pidato yang penuh inspirasi dari Barack Obama menjadi berita utama dari berbagai media dunia. Namun di balik tren kemenangan yang mengejutkan dan pidatonya yang penuh inspirasi itu, ada satu isu penting muncul dalam misi yang dibawa oleh Barack Obama. (Bersambung ...) |
PR Besar Pemerintahan SBY-JK untuk 2008 Part III: Catatan Akhir
(... Sambungan) Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) beberapa waktu lalu melontarkan keyakinan akan menurunnya tingkat kemiskinan bila tingkat pertumbuhan terus meningkat. Apa yang diungkapkan oleh JK tidaklah salah. Secara teori, adanya pertumbuhan ekonomi akan memperbesar bagian kue ekonomi semua pihak, termasuk si miskin, sehingga pendapatannya akan meningkat. Ini didukung data historis, dimana sepanjang masa pemerintahan Soeharto, tingkat pertumbuhan ekonomi yang terus menerus mampu secara signifikan menurunkan tingkat kemiskinan. |
PR Besar Pemerintahan SBY-JK untuk 2008 Part III: Non-Income Poverty
(... Sambungan) Kemiskinan non-pendapatan erat kaitannya dengan dimensi-dimensi kemanusiaan, seperti: kebutuhan konsumsi yang mendasar, pendidikan, kesehatan, akses ke infrastruktur dasar. Kemiskinan non-pendapatan berkorelasi langsung dengan output sumber daya manusia yang dihasilkan oleh suatu negara. Salah satu indikator umum yang bisa digunakan untuk melihat tingkat kemiskinan non-pendapatan adalah tingkat Human Development Index (HDI). Pada publikasi terakhir yang dirilis oleh UNDP, Indonesia berada pada peringkat 107, lebih rendah dibanding Vietnam, Filipina, apalagi Malaysia, Thailand, atau Singapura.
Melihat kondisi ini, tentu PR pemerintah bertambah besar dibanding dengan hanya mengatasi kemiskinan berdasarkan pendapatan. Masalah-masalah kemiskinan non-pendapatan sangat berkaitan erat dengan kelangsungan hidup si miskin dan kualitas dari sumber daya manusia yang ada di Indonesia. (Bersambung ...) |
PR Besar Pemerintahan SBY-JK untuk 2008 Part II: Income Poverty
(... Sambungan) Kita masih ingat perdebatan mengenai berapa sebenarnya jumlah penduduk miskin Indonesia, terutama dipicu oleh iklan kemiskinan Wiranto yang kemudian dikritik keras oleh Presiden SBY yang menganggap telah ada perbaikan pada kemiskinan selama masa pemerintahannya. Wiranto berpegang pada data World Bank yang menyatakan ada 49% penduduk miskin di Indonesia, sementara Presiden SBY mengacu pada angka yang dirilis oleh BPS, yakni sebesar 16,58%, dimana baik angka yang digunakan World Bank ataupun BPS, keduanya berbasiskan pada pendapatan. World Bank menetapkan garis kemiskinan setara US$ PPP 2 per hari, sementara BPS setara nilai kebutuhan minimum makanan (2100 kalori) yang setara dengan Rp 166.697 per bulan atau bila menggunakan standar yang sama dengan World Bank, maka nilainya sekitar US$ PPP 1,55 per hari. (Bersambung ...) |
PR Besar Pemerintahan SBY-JK Tahun 2008 Part I: Pendahuluan
Di tahun 2007, untuk pertama kalinya sejak krisis 1998, angka pertumbuhan ekonomi hampir pasti akan mencapai diatas 6%. Selain itu, angka inflasi juga stabil pada kisaran 6,5%, sesuai dengan target pemerintah maupun BI. Sementara itu, kinerja ekspor yang bagus di 2006 terus berlanjut pada tahun 2007. Kinerja ekspor yang kuat, selain menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi, juga menyebabkan meningkatnya cadangan devisa Indonesia hingga mendekati US$ 55 miliar. (Bersambung ...) |
Krisis Pangan: Lemahnya Program Pertanian Part II
(... Sambungan) Terkait dengan bahan pangan, apa yang terjadi di Indonesia kurang lebih senada dengan apa yang diungkapkan oleh Paul Krugman. Permasalahan yang terjadi pada sektor pertanian, diatasi dengan kebijakan perdagangan. Soal kedelai misalnya. Demi melindungi petani dalam negeri, pemerintah menerapkan kebijakan perdagangan berupa penerapan tarif impor (bea masuk kedelai). Akibatnya, petani dalam negeri tidak mengalami persaingan yang lebih kompetitif sehingga cenderung bermalas-malasan, tidak berinovasi, dan pada ujungnya produktivitas petani juga tidak mengalami peningkatan. Ketika AS memberikan subsidi pada petaninya, permasalahan pun semakin buruk. Dengan kualitas yang lebih tinggi dan harga murah (bahkan harganya bisa lebih rendah ketika masuk Indonesia), kedelai domestik pun kalah bersaing. Produksi kedelai terus merosot, padahal konsumsi semakin meningkat. Akhirnya impor pun harus dilakukan. |
Krisis Pangan: Lemahnya Program Pertanian Pemerintah Part I
Biasanya, satu tahun sebelum Pemilu dilakukan, perekonomian suatu negara cenderung akan mengalami peningkatan. Ini dikarenakan Presiden yang berkuasa ingin memberikan kesan yang baik di mata rakyat, supaya dia dapat dipilih kembali. Bagaimana dengan pemerintahan SBY? Sebenarnya, pemerintahan SBY juga melakukan hal yang sama. Salah satu indikasinya adalah peningkatan defisit APBN 2008 yang diharapkan menjadi stimulus bagi perekonomian. Tapi apakah langkah ini cukup untuk membawa SBY terpilih kembali nanti? (Bersambung ...) |