Kamis, 10 April 2008

Democracy: Killing Me Softly (With Capitalism) ??? Part I -- Pendahuluan

Fenomena Barack Obama dalam Pemilu AS menarik banyak perhatian bukan hanya di AS, tetapi juga di seluruh dunia. Tren kemenangan yang mengejutkan dan pidato yang penuh inspirasi dari Barack Obama menjadi berita utama dari berbagai media dunia. Namun di balik tren kemenangan yang mengejutkan dan pidatonya yang penuh inspirasi itu, ada satu isu penting muncul dalam misi yang dibawa oleh Barack Obama.

Dalam setiap pidatonya, Barack Obama selalu mengungkapkan bagaimana posisi kontra-nya terhadap apa yang disebut dengan kaum "lobbyist". Dia menganggap kebijakan-kebijakan Washington - Gedung Putih - banyak dipengaruhi oleh "lobbyist", yang mewakili kepentingan segelintir perusahaan-perusahaan besar dan menegasikan banyak suara publik lainnya - suara dari masyarakat biasa. Dengan menekankan bahwa dana kampanyenya tidak ada yang berasal dari kaum "lobbyist", Barack Obama mencoba meyakinkan pemilih AS bahwa pada pemerintahannya nanti (jika dia jadi presiden), suara-suara publik yang akan berpengaruh terhadap kebijakannya, bukan hanya suara dari perusahaan-perusahaan besar.

Apa yang coba diungkapkan oleh Barack Obama ini mengingatkan pada sebuah perdebatan lama, tetapi semakin relevan, yakni bagaimana hubungan antara kapitalisme dan demokrasi. Perusahaan besar merupakan lambang dari kapitalisme, sementara bagaimana suara publik didengarkan adalah gambaran dari demokrasi.

Bagaimana hubungan antara keduanya? Apakah keduanya "incompatible", berbeda dengan keyakinan dan pandangan yang selama ini diangkat ke permukaan? Dan bagaimana pelaksanaannya di Indonesia? Pertanyaan tersebut akan coba dilihat dalam sebuah esai singkat ini.

(Bersambung ...)

Tidak ada komentar: