Senin, 14 April 2008

Wajah Seram Inflasi Part I: Pendahuluan

Dalam sebuah kelas Makroekonomi, seorang mahasiswa S1 bertanya pada dosennya "Mungkin gak bu, pertumbuhan yang tinggi dicapai bersamaan dengan inflasi yang stabil dan tingkat pengangguran yang rendah?" Pertanyaan tersebut ditanggapi dengan antusias oleh sang dosen dan saking antusiasnya sang dosen berencana memasukkan pertanyaan itu ke dalam soal ujian.

Tentu antusiasme sang dosen bukan sekadar antusiasme tanpa arti. Kendati terlihat sederhana, substansi pertanyaan tersebut sangat penting dalam ilmu ekonomi dan lebih jauh, dalam konteks praktek penerapan kebijakan ekonomi di suatu negara.

Dalam ilmu ekonomi, ada tiga indikator utama makroekonomi, yakni pertumbuhan, inflasi, dan tingkat pengangguran. Dan dalam suatu negara, ketiganya ingin dicapai sebaik mungkin, dalam artian tingkat pertumbuhan setinggi-setingginya, inflasi yang rendah dan stabil, serta tingkat pengangguran yang sangat rendah. Namun kendati tidak sepenuhnya mustahil, dalam jangka pendek, mencapai ketiganya sangat sulit. Ketika ingin pertumbuhan tinggi, inflasi terancam meningkat. Atau di sisi lain, ketika ingin inflasi rendah, tingkat pengangguran yang rendah akan lebih sulit dicapai, seperti yang tergambar dalam apa yang disebut "Kurva Philips".

Melihat itu, dalam mengambil kebijakan dan target ekonominya, suatu negara harus cermat dan hati-hati dalam memutuskan indikator apa yang menjadi prioritas utama. Apakah inflasi, apakah pertumbuhan, atau apakah tingkat pengangguran?

Salah satu contoh nyata dapat dilihat pada pengambilan kebijakan yang diambil di AS sekarang. Di tengah ancaman resesi, The Fed -- yang notabene tugasnya adalah menjaga kestabilan tingkat harga -- memutuskan untuk lebih mengutamakan peningkatan aktivitas perekonomian, demi mendorong pertumbuhan ekonomi, dengan mengorbankan ancaman inflasi. Ini ditunjukkan dengan kebijakan pemotongan bunga yang sangat agresif. Belum lagi ditambah dengan stimulus fiskal yang diberikan oleh pemerintah. Kebijakan-kebijakan ini diharapkan mampu mendorong sisi demand, seperti meningkatkan pengeluaran masyarakat, meski di sisi lain akan memicu peningkatan harga.

Namun, lain di AS, lain pula di Indonesia. Saat ini Indonesia bisa dikatakan masih membutuhkan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Begitu juga terkait dengan tingkat pengangguran. Masih tingginya angka pengangguran tentu perlu menjadi perhatian tersendiri bagi pemerintah. Namun, untuk saat ini, sudah seharusnya kedua indikator tersebut tidak menjadi prioritas utama pemerintah. Inflasi yang harus menjadi perhatian utama. Tingginya angka inflasi dalam tiga bulan pertama 2008 menjadi alasan di balik itu. Bahkan di bulan Maret ini, bulan yang secara tren adalah bulan dengan inflasi yang rendah, angkanya mencapai 0,95%, jauh lebih tinggi dibanding bulan Februari yang 0,65%. Tingginya inflasi bulan Maret juga ditandai dengan angka inflasi year on year yang mencapai 8%. Angka yang sudah lama tidak dicapai sejak Oktober 2006. Fakta ini menunjukkan betapa mengkhawatirkan masalah inflasi ini.

Melihat itu, tentu menarik untuk membedah permasalahan inflasi. Apalagi di saat ini, BI, sang pengawal utama inflasi, juga mengalami gonjang-ganjing yang sedikit banyak akan berpengaruh pula terhadap proses pengendalian dan pengelolaan inflasi.

(Bersambung ...)

Tidak ada komentar: