| (... Sambungan) Seperti pernah diungkapkan dalam jurnal ini, di mata masyarakat, inflasi adalah istilah ekonomi paling populer, jauh lebih populer dibandingkan pertumbuhan ekonomi, pengangguran, kemiskinan, atau istilah-istilah ekonomi lainnya. Sesuatu yang wajar, mengingat masalah ini yang paling awal bersentuhan langsung dengan segala lapisan masyarakat. Dari tataran teori, pentingnya stabilitas dan rendahnya tingkat inflasi juga sangat ditekankan. Dan itu juga alasan kenapa tugas itu diserahkan pada satu lembaga besar, otoritas moneter seperti BI. Padahal kalau kita berpikir secara singkat, kadang akan muncul pertanyaan, kenapa lembaga sebesar BI tugasnya hanya mengurus inflasi saja? Bukannya itu pemborosan? Tapi tentu jawabannya tidak sesederhana itu. Secara teori maupun pembuktian empirik menunjukkan bahwa stabilitas inflasi dapat memperkuat aktivitas perekonomian (terutama dalam jangka panjang) dengan dua alasan mendasar, tetapi dalam tulisan ini akan dibahas alasan pertama saja, dengan alasan ini yang lebih relevan dengan kondisi Indonesia sekarang. Adanya inflasi yang rendah bermanfaat bagi kesejahteraan ekonomi. Ini jelas, mengingat inflasi yang rendah berarti daya beli masyarakat akan tinggi. Selain itu, keberadaan inflasi yang tinggi dapat menyebabkan kebingungan pada masyarakat dalam melakukan pilihan tabungan dan investasinya (Lucas, 1972; Briault, 1995; Shafir, Diamond, and Tversky, 1997), seperti diungkapkan juga oleh Mishkin (2008). Kenapa bisa begitu? Inflasi yang tinggi akan lebih menimbulkan ketidakpastian akan harga di mata masyarakat dan ketidakpastian ini akan mendistorsi keputusan masyarakat. Misal: seharusnya A akan optimal ketika melakukan investasi di misalkan sektor C, tapi A akhirnya memilih untuk berdiam diri dulu karena tingginya angka inflasi. Akibatnya terjadi realokasi sumber daya yang tidak efisien. Lebih jauh, keberadaan inflasi bisa mempengaruhi kegiatan produksi. Dalam sebuah penelitiannya Briault (1995) menunjukkan adanya pengaruh inflasi terhadap pertumbuhan produktivitas di UK dan US. Ketika inflasi meningkat, produktivitas akan menurun. Tapi penjelasan di atas tentu bisa dikatakan masih dalam tataran text-book belaka. Padahal bila kita melihat dalam dunia nyata, pentingnya inflasi bisa jadi lebih besar. Bila kita coba lihat perjalanan sejarah Indonesia, ada dua cerita yang bisa menjadi contoh. Kasus Tritura dan jatuhnya Soeharto pada tahun 1998. Pada dua cerita tersebut, gerakan mahasiswa muncul dengan begitu dahsyat dengan salah satu pemicu dan tuntutannya adalah turunkan harga. Kedua pengalaman tersebut menjadi bukti nyata dan sahih pentingya inflasi. Inflasi mampu menjatuhkan pemimpin nomor satu negara ini. Melihat ini, sudah sewajarnya Pemerintah SBY-JK perlu was-was dalam menyikapi kenaikan harga yang terjadi saat-saat ini. Apalagi bila second round effect seperti dibahas pada tataran teori di atas telah terjadi. Target tingkat pertumbuhan ekonomi, jumlah pengangguran, ataupun kemiskinan bisa jauh panggang dari api bila inflasi tidak berhasil dikendalikan. Dan perlu diingat, aksi-aksi mahasiswa mengangkat permasalahan inflasi ini perlahan-lahan mulai muncul. (Bersambung ...) |
Senin, 14 April 2008
Wajah Seram Inflasi Part II: Kenapa Harus Inflasi?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar