Senin, 14 April 2008

Wajah Seram Inflasi Part III: What Should be Done?

(... Sambungan)

Dari penjelasan singkat teori di atas, ada satu poin penting yang tersirat mengenai penanganan inflasi. Satu hal yang sebenarnya sangat dimengerti oleh para pengambil kebijakan, tetapi kondisi yang ada menunjukkan sebaliknya. Poin penting yang dimaksud adalah ekspektasi inflasi. Masih merupakan kelanjutan dari penjelasan teori di atas, peran dari ekspektasi inflasi terlihat sebagai berikut (Mishkin 2008): Pertama, adanya ekpektasi terhadap kebijakan dan kondisi ekonomi di masa depan akan memainkan peran besar dalam menentukan efek dari kebijakan ekonomi yang diambil saat ini. Kedua, kebijakan moneter paling efektif ketika bank sentral teguh pada tujuannya menjaga inflasi tetap rendah dan stabil melalui kebijakan dan pernyataan yang dikeluarkannya.

Dilihat dari kedua poin tersebut, kami memandang bahwa otoritas moneter, yakni BI, telah menjalankan tugasnya dengan baik. Ini terbukti dengan melihat pada kebijakan yang diambil oleh BI untuk tetap mempertahankan tingkat suku bunganya dalam beberapa bulan terakhir. Namun, kenapa akhirnya inflasi tetap tinggi dan begitu juga ekspektasi inflasi? Selain memang karena faktor global yang tidak terkendali, ada dua penyebabnya. Otoritas moneter, BI, sebenarnya telah baik dalam menjalankan tugasnya sehingga seharusnya ekspektasi inflasi bisa tetap terjaga. Namun harus diakui kasus yang menimpa BI terkait dengan aliran suap ke DPR dan juga berlarutnya proses pemilihan Gubernur BI mempengaruhi ekpektasi tersebut. Segala kebijakan yang diambil BI akan sia-sia karena adanya faktor-faktor X tersebut.

Terlepas dari sisi moneter, yang kami anggap telah maksimal berusaha, terkait dengan masalah inflasi ini, sisi fiskal yang masih menjadi masalah. Tidak berjalannya sektor riil, infrastruktur yang belum baik, misalnya, menyebabkan timbulnya masalah, baik dari sisi demand maupun suplai. Belum lagi kebijakan-kebijakan pemerintah yang akhirnya malah menyebabkan distorsi pada inflasi. Seperti yang pernah dibahas dalam jurnal ini sebagai "Policy Induced Distortion". Kesemuanya berujung pada tingginya inflasi dan rakyat menjadi korbannya. Ketidakmampuan pemerintah itupun berakibat pada ekspektasi inflasi yang tinggi, seperti yang terungkap dalam hasil jajak pendapat Syahrir Research bulan ini.

Melihat itu, pemerintah harus segera berbenah. Segera selesaikan masalah pencalonan Gubernur BI dengan memilih calon yang kredibel dan tentunya tidak memicu perdebatan lagi - segi akseptabilitas menjadi poin penting disini. Dengan dipilihnya calon dengan kriteria seperti itu, diharapkan pengaruh-pengaruh faktor X tadi bisa digerus perlahan-lahan. Oleh karenanya, pencalonan Boediono sebagai calon tunggal Gubernur BI adalah langkah yang tepat. Namun, satu hal, seandainya Boediono terpilih menjadi Gubernur BI, independensi bank sentral sedianya harus tetap dijaga.

Di sisi lain, pertemuan rutin yang mulai dilakukan oleh pemerintah dan BI juga merupakan sesuatu yang baik. Namun, pemerintah sendiri harus segera melakukan langkah-langkah konkrit terhadap berbagai permasalahan yang selama ini belum juga selesai, terutama kami melihatnya pada masalah infrastruktur. Masalah pada infrastruktur menimbulkan masalah pada akses pasar, meningkatnya ongkos transportasi, lalu kemudian lambatnya distribusi, yang kesemuanya bisa berujung pada masalah inflasi.

Hanya satu setengah tahun bersisa pemerintahan SBY-JK. Tentu tidak lucu jika akhirnya pemerintahan SBY-JK jatuh karena aksi turun ke jalan menuntut turunnya harga. Apalagi popularitas SBY sampai saat ini masih belum disaingi oleh tokoh-tokoh lainnya. Atau malah tingginya popularitas ini yang membuat SBY menjadi terlena? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Syahrir Research April 2008

Tidak ada komentar: